Nama : Andrey Christianto

Nim    : 07. 13. 94

Jurusan : PAK

Judul   : Liturgi Pernikahan

Tugas   : Makalah Liturgika

PENDAHULUAN

Pernikahan dan kehidupan keluarga di era globalisasi sangat penting untuk dipahami men

urut nilai-nilai kristiani. Hal ini disebabkan karena era globalisasi ditandai oleh suatu situasi perjumpaan dan mungkin juga pembaruan budaya lintas bangsa. Perjumpaan dan pembauran itu membawa dua dampak, positif dan negatif.

Dampak positifnya adalah kalau tekanan pada segi perjumpaan budaya secara setara sehingga

bisa saling memperkaya. Nilai-nilai luhur yang universal, seperti kasih, keadilan, dan kebenaran, bisa diamalkan dengan berbagai cara secara dinamik. Maka orang terbiasa hidup lebih leluasa dan bervariasi.[1] Dampak negatifnya adalah kalau tekanan pada segi pembauran budaya. Akan terjadi ketidak seimbangan karena ada budaya yang mungkin dominan.[2] Misalnya, budaya Barat, yang umumnya sangat rasionalistik dan pragmatasi, akan mendominasi budaya Timur yan

g terkesan kaku. Kita lihat saja misalnya, gaya berpakaian dan pola konsumsi gaya Barat sangat cepat digandrungi anak muda kita.

Bagi banyak anak muda yang kurang dewasa, ikut-ikutan dapat menyebabkan nilai-nilai budaya Barat akan mendominasi gaya dan pola hidup mereka. Misalnya saja dalam hal pergaulan orang muda, gampang sekali kita meniru pola hidup bersama tanpa menikah, padahal pola hidup demikian tidak sesuai dengan nilai budaya Timur dan juga nilai kristiani. Untuk sekedar diketahui, walaupun dunia Barat dipandang mewakili dunia Kristen, gaya hidup mereka hampir tidak diresapi nilai-nilai kristiani.

Gaya hidup bersama tanpa nikah misalnya, merupakan buah dari rasionalisme dan

materionalisme manusia Barat yang menganggap soal perkawinan sebagai suatu kebutuhan berdasarkan logika sosial antropologis, dan biologis. Bukan perilaku yang dibenarkan secara teologis.

BAB I

PERNIKAHAN KRISTEN

A. Pengertian

Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud mensahkan suatu ikatan. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi antar bangsa, suku satu dan yang lain pada satu bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula. [3]

Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditandatangani. Upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga. Wanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin, dan setelah upacaranya selesai kemudian mereka dinamakan suami dan istri.[4]

Secara harafiah pernikahan Kristen selain melibatkan Tuhan sebagai dasar pernikahan, pernikahan Kristen adalah suatu keputusan dua pribadi menjadi satu, menyatukan dua emosi jadi satu dan saling berfungsi meski kedua pribadi memegang teguh jati diri masing-masing, tidak melihat dan menjadikan perbedaan sebagai suatu yang harus dipermasalahkan (Kej 2:24). Pernikahan merupakan suatu lembaga yang memang Tuhan adakan dengan tujuan dan juga sebagai gambaran bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang penuh kasih. Adam Tuhan ciptakan dan kepadanya Tuhan berbagi kasih, dan pada siapa Adam bisa berbagi kasih? Secara harafiah saat Adam diciptakan ia sudah tidak sendirian. Ciptaan lain sudah ada, namun Alkitab tidak menyebutkan bahwa pada ciptaan lain Adam menemukan padanan baginya hingga dapat berbagi kasih.[5]

B. Simbol-simbol dalam pernikahan[6]

Dahulu kue pengantin dianggap sebagai simbol dari harapan akan kesuksesan dan kesuburan. Masyarakat Roma kuno membuat kue dari gandum, lalu memecahkannya di atas kepala pengantin wanita sebagai simbol kesuburan. Kue tiga tingkat secara tradisional dimaksudkan untuk pesta pernikahan dan mungkin setahun kemudian juga dipakai dalam upacara pembaptisan agama Katolik/Kristen. Pasangan pengantin diharapkan untuk berciuman di atas tumpukan kue tanpa terjatuh. Tingkat kue paling bawah adalah untuk resepsi pengantin, tingkat tengah untuk dibagi-bagikan, dan tingkat paling atas untuk disimpan dan dimakan satu tahun kemudian.

Dewasa ini, terdapat sebuah tradisi di mana pasangan pengantin saling bertukar kue untuk menunjukkan kesetiaan satu sama lain. Memakai cincin di jari manis didasarkan pada satu kepercayaan kuno di mana pembuluh darah di dalam jari manis disalurkan langsung ke jantung. Cincin mulai populer dikenakan sejak zaman Yunani dan Mesir kuno oleh orang-orang kaya.

Pada abad ke-13, Sri Paus III menerapkan suatu masa tunggu antara pertunangan dan pernikahan serta cincin sebagai jaminan pertunangan. Orang Italia pada abad pertengahan percaya bahwa berlian diciptakan di dalam nyala api cinta, karena itu menjadikannya sebagai pilihan cincin kawin yang romantis. “Mengikat sebuah simpul” adalah ungkapan dari zaman Roma, ketika pengantin wanita mengenakan korset untuk melindungi kesuciannya. Korset itu dihubungkan pada suatu simpul dan mempelai pria akan mendapatkan sebuah kegembiraan untuk melepas ikatan simpul pada korset tadi.

Banyak orang percaya bahwa gaun pengantin berwarna putih dipopulerkan oleh Anne of Brittany pada tahun 1499, dan ada juga yang mengatakan bahwa Ratu Victoria adalah orang pertama yang menikah dengan gaun berwarna putih pada tahun 1840-an. Sebelumnya, pengantin wanita cukup dengan mengenakan pakaian terbaik mereka. Dewasa ini, memakai gaun pengantin berwarna putih melambangkan kegembiraan, kebahagiaan, dan kemakmuran. Penggapit dengan pakaian putih adalah melambangkan jalan murni menuju kebahagiaan, dan bunga mawar di sepanjang jalan pengantin diperkirakan untuk memimpin mereka kepada masa-masa depan yang manis dan makmur.

C. Pemahaman tentang Pernikahan menurut Etika Kristen

Pemahaman pernikahan menurut etika kristiani berarti internalisasi nilai-nilai kristiani berdasarkan Alkitabiah dan tradisi Kristen tentang makna pernikahan.[7] Yang berarti suatu ikatan rohani antara pria dan wanita yang menikah. Di dalam Efesus 5:22-32 Rasul Paulus menjelaskan pandangan Kristen berkenaan pernikahan. Pada bagian penutup dari penjelasannya itu Paulus mengatakan, “Rahasia itu besar”, jadi, menurut Rasul  Paulus penikahan itu merupakan suatu “rahasia”, atau “misteri”. Pada zaman Paulus kata tersebut lebih spesifik artinya daripada makna kata itu pada zaman sekarang. Dahulu kata “misteri” itu mengandung makna tertentu, yang khusus berkaitan dengan suatu upacara agama yang sakral. Yang dimaksud dengan “rahasia” itu, yaitu suatu pengetahuan istimewa yang besar manfaatnya, namun hanya boleh diungkapkan kepada para anggota suatu kelompok agama, yang masing-masing telah diambil sumpahnya. Untuk dapat memperoleh pengetahuan yang tertutup bagi “orang luar” itu, kita harus menjadi “orang dalam” terlebih dahulu, melalui suatu upacara yang disebut inisiasi (perkenalan).[8]

Jadi, dengan menggunakan kata “rahasia” untuk menjelaskan hubungan pernikahan itu, Paulus sesungguhnya menunjukkan dua hal: pertama, bahwa ada suatu pengetahuan istimewa yang sangat dirahasiakan dan dapat menghasilkan kebahagiaan dalam pernikahan; kedua, bahwa pengetahuan yang tersembunyi di belakang tabir rahasia itu hanya dapat diperoleh setelah kita menempuh ujian-ujian serta memenuhi persyaratan tertentu.[9]

Dalam arti lain pernikahan adalah persekutuan seorang laki-laki dengan seorang perempuan, menurut tata penciptaan. Itu sebabnya, pernikahan kristiani adalah suatu yang suci. Dari catatan ini ada beberapa hal yang perlu ditekankan pada orang muda yang ingin menikah:[10]

  1. Pernikahan Kristen itu menganut asas monogami. Asas ini diperkuat oleh pemberitaan Perjanjian Baru (I Kor. 7:2; bdk. I Tim. 3:1).
  2. Pernikahan Kristen tidak menganggap perkawinan homoseksual atau lesbian sebagai pernikahan yang dikehendaki Allah. Homoseksual ditolak Alkitab karena terkait dengan penyembahan berhala (Ul. 23:17-18; Rom. 1:27-28; I Kor. 6:9; bdk. I Tim. 1:9, Yudas 7 ).
  3. Pernikahan adalah sesuatu yang suci, maka tidak boleh dinodai oleh hubungan seksual dengan orang yang bukan pasangan suami istri (Kis. 15:20; I Kor. 6:18; Kel. 20:14; Mat. 19:9; Ibr. 13:4).

C. Tanda Kehadiran Tuhan dalam Sakramen Perkawinan[11]

Dalam sakramen perkawinan, tanda kehadiran Tuhan yang mencintai umatNya diwujudkan secara khusus yaitu tidak hanya melalui barang mati saja, melainkan melalui manusia sendiri. Intisari ucapan skramen Perkawinan adalah janji setia (sumpah) yang diucapkan oleh kedua mempelai di hadapan Imam dan para saksi. Sekali mereka “dipersatukan oleh Allah” dengan “saling menerima” sakramen perkawinan, Tuhan menetapkan manusia-pria untuk menjadi tanda cintaNya bagi si wanita, dan Tuhan mengangkat manusia-wanita  untuk menjadi tanda cintaNya bagi si pria. Sama seperti roti dan anggur dalam Ekaristi menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk menampakkan kehadiranNya, demikian pula pria dan wanita, sebagai suami-istri menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk menampakkan kebaikanNya dan semakin mendekatkan hidup mereka kepada Tuhan.

Maka, karena iman itu, seorang suami akan memandang istrinya tidak hanya sebagai teman hidup saja, melainkan sebagai uluran tangan Tuhan yang mau mengasihi dirinya. Demikian pula karena imannya, seorang istri dapat memandang suaminya sebagai karunia Tuhan yang mau mengangkat hidupnya menuju kebahagiaan sejati. Maka, perkawinan bukan hanya perkara sosial psikologis, biologis, dan ekonomis, tetapi juga soal agama dan kerohanian; bukan hanya perkara manusiawi tetapi juga suatu “lembaga keselamatan” karena Tuhan sendiri mau terlibat di dalamnya.

D. Tujuan Pernikahan[12]

Banyak orang berfikir bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang alamiah saja, suatu kodrat manusia. Sebagian pendapat itu benar. Kalau orang suadah sampai umur, maka tentu ia akan menikah. Tetapi orang tidak menikah hanya karena alasan kodrat. Dalam Alkitab, pernikahan mempunyai tujuan dalam rencana Allah. Itu sebabnya pernikahan itu harus dilandasi cinta kasih. Itu juga sebabnya mengapa tidak semua orang harus menikah (Mat. 19:12). Secara umum orang berbicara tujuan pernikahan sebagai kebahagiaan. Tetapi kebahagiaan itu adalah konsep abstrak. Itu sebabnya banyak pula yang mereduksi kebahagiaan sebagai kesejahteraan material.

Secara teologis, kebahagiaan itu dipahami sebagai syalom di mana ada kesejahteraan material tetapi juga kesejahteraan rohani, kedamaian, keharmonisan, dan cinta kasih dapat di lihat dalam Maz. 128 bahwa kebahagiaan dalam pernikahan dan rumah tangga dimulai dari takut akan Tuhan. Secara teologis, biasanya dibedakan 3 tujuan pernikahan, yaitu:

  • Pertama: Propagasi atau prokreasi (Kej. 1:28). Seorang yang menikah harus menyadari bahwa mereka mengemban tugas suci untuk melanjutkan tugas suci untuk melanjutkan karya Allah menciptakan generasi penerus. Itu sebabnya tekanan dalam formulir pernikahan adalah supaya mereka memelihara dan mencintai anak-anak yang akan dilahirkan.
  • Kedua: Unifikasi atau kesatuan (Kej. 2:24). Kesatuan daging adalah kesatuan jiwa raga. Unifikasi bukan sekedar hubungan seksual, tetapi menyatukan dua insan secara eksklusif dalam segala hal.
  • Ketiga: Rekreasi atau kesenangan (Ams. 5:18-19). Hubungan seksual penting sekali, sebab ia menjadi wujud dari kesatuan dan juga tugas prokreasi. Untuk melahirkan anak-anak yang sehat maka perlu sukacita dalam hubungan suami istri. Tetapi kesenangan itu tidak hanya dalam hubungan seksual. Kesenangan juga dapat dicapai dalam hubungan rohani.

E. Ancaman Terhadap Pernikahan[13]

Tentu harus dikatakan juga, bahwa pernikahan bukan suatu surga dunia melainkan suatu wadah perjuangan, wadah pembinaan diri yang terus menerus. Banyak godaan dari luar dan dalam yang dapat menjadi ancaman pernikahan.

Pertama: ancaman dari dalam. Perbedaan dua orang yang menikah akan selalu menjadi ancaman terhadap pernikahan kalau tidak dapat diikelola dengan bijaksana. Perbedaan suku, selera, hobi, dan seribu satu macam perbedaan, kalau tidak diterima dengan pengertian dalam, akan menjadi ancaman rutuhnya pernikahan. Yang dapat dilakukan untuk mempertahankan keutuhan keluarga bukanlah kecocokan melainkan kesediaan untuk mengerti, menerima dan berkorban demi pasangan hidup.

Kedua: ancaman dari luar. Sama seperti ancaman dari dalam, ancaman dari luar pun banyak. Ada keluarga yang suka ikut campur, ada kawan-kawan yang lama yang mungkin berpengaruh, dan sebagainya.  Ancaman-ancaman itu hanya bisa diatasi dengan iman dan kesetiaan kepada Tuhan yang akan menjadi pondasi bagi suami-istri mempertahankan rumah tangga mereka.

BAB II

LITURGI PEMBERKATAN NIKAH

(Tawaran Penulis)

Di dalam makalah ini, penulis mencoba untuk menawarkan sebuah liturgi pernikahan yang sedikit berbeda. Di mana penyelenggaraan acara adat pernikahan dan pemberkatan serta peneguhan nikah yang pada umumnya di lakukan pada tempat yang berbeda yakni, untuk acara adat dilaksanakan di rumah mempelai wanita dan pemberkatan dan peneguhan nikah dilaksanakan di Gereja. Dan dalam makalah ini, penulis akan mencoba menggabungkan pelaksanaan acara adat dan pemberkatan serta peneguhan nikah yang hanya dilakukan di gedung Gereja saja.

1. Persiapan Ibadah

  1. Doa di Konsistori.
  2. Jemaat berdiri dan menyanyi Kj. No: 322:1 (sementara itu para pelayan memasuki ruang ibadah).
  3. Salam Presbiter dan penyerahan Alkitab.
  4. Mempelai memasuki ruang Gereja diiringi dengan tari-tarian (tari bahalai) dan disambut oleh penetua dan diakon.

(Jemaat berdiri)

2. Votum dan Salam

VOTUM:

P : Ketahuilah bahwa Tuhan Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umatNya dan kawanan Domba gembalaNya. (Maz. 100:3).

SALAM:

P : Kasih karunia dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. (I Kor. 1:3).

(Jemaat duduk)

3. Jemaat Menyanyi lagu dengan judul: Andri Arai atei

Andri aria atei, takam katuluhni,

Daya takam tau panalu.

Ipanyurung tabe, ma tawari wanga,

Harepang papale, kasungu.

Andri naun hang yari,

Isa lawit uneng ni,

Ware takam ngantuh s’lamat panalu.

4. Tumet Leut yang dibawakan oleh:….. (Pantun yang dinyanyikan).

5. Pemberitaan Firman Tuhan

Kejadian 1: 27&28; Kejadian 2: 22-25

6. Jemaat Menyanyi dari Kj: 316:1-3

7. Tari-tarian dayak Maanyan (Giring-giiring)

8. Penetapan Nikah

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, kita berkumpul di sini di hadapan Allah untuk menyaksikan perjanjian nikah antara seorang pria dan seorang wanita menurut peraturan Gereja…………….

9. Paduan Suara/Vokal Group:…

10. Pengucapan Janji Pernikahan (diiringi musik dayak Ma’anyan)

Pria      : Saya, ……. Mengambil engkau ……. menjadi istriku, dan saya berjanji untuk mengasihi dan memeliharamu baik dalam keadaan sakit atau sehat, dalam kesukaan ataupun kedukaan, hingga kematian memisahkan kita.

Ayat-ayat Alkitab untuk suami

- Matius 19:5&6

- Amsal 5:18

- Amsal 18:22

- Pengkotbah 9:9

- Maleakhi 2:15

- 1 Kor7:2-4

- Efesus 5:23-25

- 1Tim 3:11

- Titus 1:6

- 1Petrus 3:7

Wanita : Saya, ……. Mengambil engkau ……. menjadi suamiku, dan saya berjanji untuk mengasihi dan memeliharamu baik dalam keadaan sakit atau sehat, dalam kesukaan ataupun kedukaan, hingga kematian memisahkan kita.

Ayat-ayat Alkitab untuk istri

- Amsal 12:4

- Amsal 19:14

- Amsal 31:30

- 1Kor 7:39

- Efesus 5:22

- Efesus 5:33

- 1Petrus 3: 1-6

11. Penguhan Pernikahan

P         : Oleh karena saudara berdua, ….. dan …. Telah mengikrarkan perjanjian yang suci ini, dan telah mengucapkan perjanjian ini di haddapan Allah dan siding jemaat ini, maka saya meneguhkan nikah saudara dalam nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus.

J            : Amin

12. Pertukaran Cincin (cincin dibawa oleh penari)

13. Berkat Untuk Mempelai

Hendaklah saudara berlutut dan menerima berkat Tuhan:

“Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan dan yang suka akan perintah-perintahNya. Terang itu akan bersinar dalam kegelapan bagi orang yang benar, adil, pengasih dan penyayang. Dari kelimpahan Tuhan saudara akan menerima karunia tambah karunia.” Amin.

14. Persembahan Syukur

  1. a. Untuk mewujudkan sukacita kita kepada Tuhan, sekarang ada waktu bagi kita untuk menyerahkan persembahan syukur. Sementara persembahan syukur dikumpulkan, jemaat menyanyi dari Kidung ungkup yang berjudul: Uras Madia PangamianNu

Uras madia pangamianNu,

Natarimeku hamper andrau yina,

Lewu reanku nasalindungNu,

Tarimekasis ma Hanyu, Tuhanku.

Reff: Tu’u paruna, ahi leluNu,

Puang nakummanyu kahalaenku,

Ateiku sindi mawitu bujur,

Awat sanyari ahengku.

Riu mateku karing puhutNu,

Kiak tungkauku jari tumet leut,

Hang wuang hanang hawiNu nengau,

Tarimekasis ma Hanyu, Tuhanku.

  1. b. Doa Persembahan

15. Paduan Suara /Vokal Group:….

16. Doa

Mahabesar Tuhan, Bapa yang pengasih, kami mengucap syukur karena kedua saudara ini telah Tuhan terima dan berkati, dan mulai hari ini mereka dipersatukan menurut firmanMu. Kami menyadari bahwa di luar Tuhan mereka tidak dapat berbuat sesuatu yang sesuai dengan kehendakMu. Kiranya Tuhan member segala karuniaMu, teristimewa RohMu agar memimpinrumah tangga mereka pada jalan yang benar. Tolonglah agar dalam iman mereka dapat menepati perjanjian mereka, karena anugerahMu di dalam Yesus Kristus Tuhan kami. Amin

17. Penyerahan Alkitab serta Surat Tanda Nikah Kepada Mempelai.

18. Pembukaan Selubung Wajah (Pengantin bertukar posisi)

19. Penandatanganan Surat Nikah

20. Mempelai menerima restu dan berterimakasih kepada orangtua

21. Sepatah Kata dari Pihak Keluarga

22. Tumet Leut:…..(Sebagai tanda suka cita)

23. Berkat Tuhan

P        : Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, memelihara hati dan pikiran saudara dalam pengetahuan akan kasih Allah dan AnakNya Yesus Kristus Tuhan kita, dan semoga berkat Allah yang Maha Kuasa, Bapa, Anak dan Roh Kudus, menyertai saudara sekalian.

J         : Haleluyah….Amin3x

B

Berdasarkan makalah yang telah penulis buat, dapat kita lihat bersama bahwa Tuhan menginginkan bahwa kita sebagi manusia, haruslah menikah. Selain itu berbagai dasar dan tujuan serta nast-nast Alkitab juga dapat dijadikan dasar untuk menjelaskan mengapa pernikahan itu harus dilaksanakan. Penulis juga berpendapat bahwa pernikahan itu adalah sesuatu yang acral, dan bukanlah sesuatu tanpa makna. Karena pada zaman sekarang, banyak orang menganggap bahwa pernikahan itu adalah salah satu rutinitas masyarakat  saja. Tanpa memandang lebih jauh, apa makna pernikahan itu sebenarnya.

Sebenarnya Tuhan menetapkan manusia-pria untuk menjadi tanda cintaNya bagi si wanita, dan Tuhan mengangkat manusia-wanita  untuk menjadi tanda cintaNya bagi si pria. Dan sepasang suami-istri itu juga menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk menampakkan kebaikanNya dan semakin mendekatkan hidup mereka kepadaNya.

Penulis juga berpendapat bahwa syarat utama agar rumah tangga utuh adalah letakkan proporsi pernikahan pada dasar seharusnya seperti yang tercatat dalam Ef 5:22-33, kenakan kecantikan seperti apa yang diharapkan 1Pet 3:3-4, jangan hanya bermodalkan “sejauh cinta yang kita miliki.” Mau berkomunikasi dengan terbuka, mendengarkan apa yang pasangan kita mau, tidak menambah lebar saat bertengkar, dan hindarkan situasi yang bisa atau mempunyai kecondongan ke arah perceraian.